Jakarta – Koalisi Mahasiswa Papua Anti Militerisme
(KoMPAM) mendesak Pemerintah Republik Indonesia segera menghentikan
setiap tindakan represif yang dilakukan oknum aparat keamanan di seluruh
wilayah Tanah Papua. Demo Mahasiswa Papua soal Insiden Dogiyai
Demikian salah satu pernyataan sikap KoMPAM di Jakarta, Kamis (21/4)
menyikapi insiden berdarah di Moanemani, Kabupaten Dogiyai beberapa hari
lalu.
Terhadap penembakan oleh aparat kepolisian yang mengakibatkan
pertumbahan darah di pihak warga sipil, KoMPAM menyatakan sangat
berdukacita. Negara juga diminta bertanggungjawab atas insiden yang
menewaskan dua orang: Dominikus Auwe (27), Aloysius Waine (25).
Sedangkan korban luka-luka: Vince Yobee (23), Albertus Pigai (25) dan
Matias Iyai (27).
Pernyataan serupa diungkapkan ratusan mahasiswa Papua se-Jawa dan
Bali saat menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Negara dan Mabes
Polri, Rabu (20/4) kemarin.
Selain menuntut pertanggungjawaban negara terhadap kasus tertembaknya
lima warga sipil Dogiyai, KoMPAM juga mendesak Kapolri segera mencopot
jabatan Kapolda Papua, Kapolres Nabire dan Kapolsek Dogiyai.
Tuntutan lainnya, stop pendekatan secara militerisme dalam
menyelesaikan masalah di Tanah Papua. Dan meminta perhatian masyarakat
Internasional menyikapi berbagai pelanggaran HAM di Tanah Papua.
KoMPAM terdiri dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Front Nasional
Mahasiswa Papua (FNMP) dan Aliansi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua
Indonesia.